Ingatkah?

Masih ingat aku?

Lelaki yang dulu pernah kau rindu.

 

Kini sudah tak ada lagi kata cinta di antara kita

Yang ada tinggal cerita, semoga bahagia.

Hari Kedua – Tempat Yang Jauh

“Na, ayo tinggal bersamaku di Amazon.” Spontan aku tertawa dibuatnya.

“Kamu mau menjadikanku umpan binatang buas disana?”

“Bukan begitu…” dia lalu cemberut, mengabaikanku. Marah ya? Tapi aku tidak mau tinggal di Amazon. Aku mau tinggal di dasar samudera!

***

Tadinya, aku tidak begitu suka dengan warna biru. Biru di mataku adalah perwujudan dari sendu. Salah satu warna yang memainkan kidung rindu di dalam kepalaku. Berdengung, sesekali memekik. Begitulah aku menarik garis batas terhadap warna itu.

Aku seorang gadis berusia tujuh belas tahun saat itu. Tanpa sengaja berjalan di belakang sosok laki-laki yang mengenakan jaket polos berwarna biru tua. Tas yang dia pakai pun di dominasi dengan warna biru. Langkah kakinya nampak ragu. Mungkin karena lantai licin akibat hujan deras siang tadi.

Tidak hanya sekali itu aku mendapati dirinya mengenakan warna biru. Pernah ia mengatakan padaku, ia menyukainya. Biru. Dan, sejak saat itu dia satu-satunya yang kubayangkan ketika memikirkan tentang lautan. Tentang samudera.

“Sejak kapan kamu jadi suka biru?” tanya wanita di sebelahku. Tidak, aku bukannya suka biru. Aku hanya…entahlah.

“Na! Kamu mau pergi kemana?” wanita itu bertanya lagi. Pergi? Sekilas aku berpikir untuk menyusul Kian, itu cukup jauh. Karena aku tidak mengetahu dimana ia berada sekarang.

Setelah kupikir lagi, mungkin aku memilih biru?

“Ke laut.”

“Hah?” dia menatapku.

Aku ditenggelamkan disana.

***

dona syah azizah

Hari Pertama – Cinta Monyet Masa Kecil

“Na!”

“Iya, sebentar!”

Aku berlari kepayahan menyusul ketiga temanku yang sudah jauh di depan. Mereka semua pakai celana pendek yang longgar, sedangkan aku memakai rok yang membuatku agak sulit berlari. Mereka sama sekali tidak menungguku atau berinisiatif membantuku. Ah, dasar anak cowok!

Kami berlari melewati halaman masjid kampung yang luas, kemudian melewati jembatan pendek yang lebar. Belok ke kanan, kami akan menemukan jalan berbatu yang membatasi pemukiman warga dengan daerah persawahan.

Setelah melalui lapangan desa, kami sampai di seberang pohon yang aku tidak tahu namanya. Kian maju pertama. Melangkah diatas bambu yang disusun sedemikian rupa sehingga mampu menopang tubuh manusia untuk berjalan menuju seberang sungai.  Aku berjongkok dan terengah-engah, menunggu giliran terakhir untuk mengambil buah berwarna merah itu setelah Lana dan Arya.

“Jangan dihabisin semua lho, Ian!” Lana protes ketika Kian mengambil banyak sekali buah dari pohon. Buahnya berwarna merah cerah, ada juga satu dua yang berwarna kehitaman. Aku suka sekali buah itu karena rasanya yang manis, dan aku juga tidak mau Kian menghabiskan semua untuk dirinya sendiri.

Kian meringis. Sebuah seringai lebar mengiringi dirinya yang perlahan-lahan menjajaki jembatan bambu. Bergantian Lana, Arya dan aku mengambil buah dari pohon. Kami duduk berjejer di pinggir sungai. Airnya masih jernih sehingga kami dapat melihat dasarnya yang berwarna kecoklatan dan deretan batu-batu.

“Bapakku bilang mau pindah rumah.” Celetuk Kian tiba-tiba.  Serentak kami memandangnya. Pindah bukan hal yang biasa kami dengar.

“Pindah kemana?”

“Ke mana ya namanya, lupa.”

“Ah, bohong ya!” Lana memukul bahu Kian. Kian yang duduk diantara Lana dan Arya pun menjadi bulan-bulanan. Senyuman tidak pernah lepas dari wajahnya. Aku diam saja memandangi mereka. Apa Kian akan benar-benar pergi? Bagiku saat itu, pindah artinya aku tidak akan bisa bertemu dan bermain bersama Kian lagi.

Sepanjang perjalanan pulang aku berada di belakang. Mengamati Kian. Kata-katanya membuatku otomatis melakukan itu. Saat dia menemukan pandangku yang tertuju padanya, dia mengejekku dan memanggilku siput. Biar saja. Aku mau melihatmu, Kian.

***

Aku sendirian membawa botol bekas sirop yang terbuat dari kaca. Aku mengisi botol kaca itu dengan air yang keluar dari pancuran milik tetanggaku. Di sebelahnya ada kolam ikan, tempat Bapak biasa membuang tikus tangkapannya. Tempat itu dipenuhi lumut sehingga aku berjalan dengan amat hati-hati, nyaris membungkuk sambil mendekap erat botol yang kubawa. Sialnya, aku cukup ceroboh untuk bersikap hati-hati. Botol itu terlepas dari tanganku dan jatuh tepat ke kakiku. Awalnya aku tidak merasakan apa-apa. Kemudian rasa sakitnya menyerangku. Saat itu, aku baru berumur tujuh tahun. Dan aku menangis sejadinya.

Tangisanku hari itu tak kunjung berhenti. Aku terduduk di depan pintu rumahku. Tidak ada yang menemaniku atau mencoba menenangkanku. Aku tidak ingat Bapak dan Ibu kemana saat itu. Yang aku tahu aku menangis. Lama sekali. Sampai Lana lewat didepanku.

“Kenapa Na?”

Aku kian larut dalam sedu-sedan, tidak sanggup menjawab pertanyaannya. Dibalik gerbang rumahku ia berdiri terus. Hanya melihatku menangis. Aku malu, tapi aku tidak mau mengusirnya. Aku mau ditemani.

Lana menungguku sampai tidak ada air mata yang merembes dari mataku.

“Udah?” aku mengangguk.

“Masuk. Terus tidur. Besok kita main lagi. Sama Arya, sama Kian. Mau?”

Aku mengangguk lagi. Tanganku menggapai gagang pintu dan menumpukan seluruh berat badanku kesana. Aku berbalik sekali ke arah Lana. Dia masih disana, dibalik gerbang rumahku.

Aku memberinya lambaian. Sampai jumpa besok!

***

Tidak tahu kenapa, aku tiba-tiba ingin menyerukan nama Kian. Masih pagi, dan aku baru saja melihat wajahnya. Tapi kini tidak.

Kian!

Kian!

Kian!

Jauh sekali langkahnya di depanku, punggung itu kini hanya nampak segaris dengan tiang-tiang yang menjulang tinggi di sana. Ada melankoli yang terbit di sela langkah kakinya.

Kian!

Mengapa kamu pergi?

Sosoknya hilang. Hanya ada Lana di sampingku. Dia menepuk pundakku.

“Kita pasti ketemu Kian lagi.”

Yakin sekali ia pada kata-kata itu. Aku mengangguk saja. Semua ucapan Lana, aku bisa percaya. Dia membiarkanku memandangi hilangnya Kian dari kehidupan kami sampai puas. Lantas tiba-tiba meraih tanganku. Sontak kutarik kembali tanganku, terkejut.

Lana tidak bicara apa-apa, hanya ada bola mata yang melebar saling berpandangan—milikku dan miliknya.

Waktu itu, aku gadis kecil umur tujuh tahun.

***

dona syah azizah

 

Day 2

“Tempat terjauh… kamu mau ke Mars?”

Mars? Haha. Inginku begitu. Tapi Mars tidak seramah itu. Menapak disana sama saja siap lebur, bagiku. “Ruang hampa.” Setidaknya, disana aku hanya akan di buat mengambang, bukan? “Kamu?”

“Aku mau ke samudera.”

“Tenggelam?”

Gadis itu mengangkat bahu. “Tadinya aku memilih ketiadaan. Tapi ia terlalu dekat.”

“Aku mau tempat dimana kedamaian di kekalkan dalam pikiran, ada?”

“Cari saja. Lalu ia akan datang padamu kalau kamu benar menginginkannya.” Ia menatapku sekilas. “Setidaknya, kamu akan menemukan tempat itu secara utuh dalam imajinasimu.”

Tapi ini lebih dari apa yang menjadi batas imajinasiku. Bahkan, imajinasi terliarku sekalipun.

Tempat kedamaian bisa dikekalkan. Saat waktu tidak lagi berlaku, tanpa ‘aku’ yang terjebak atas kungkungan itu.

Ya, aku sedang berbicara tentang waktu. Juga segala hal yang terikat olehnya. Bukankah itu sama saja aku membicarakan semua hal yang memiliki keberadaan?

Terlalu kompleks.

“Imajinasi tidak memiliki batas. Kalau ia masih berbatas, artinya rasa takutmu telah mengalahkan keingintahuanmu. Lalu, buat apa kamu menyebut dirimu manusia?”

Ah.

 

ida nur hajjah

Dann…

Ini, kisah lebih dari lima tahun yang lalu. Delapan tahun, mungkin.

Dia adalah orang yang selalu membiarkanku berjalan di belakangnya, kepayahan mengikuti langkahnya yang terlalu panjang. Oke, sebut saja dia Dann.

Kaki ku mengikuti langkahnya dengan tergesa. Dann berjalan di depanku seakan dia sendirian. Dann selalu begitu. Meninggalkanku di belakangnya. Membiarkanku mengikutinya dengan terseok. Lalu, tiga menit kemudian, saat aku telah teringgal sekitar lima meter darinya, Dann akan berhenti sebentar, menoleh kearahku dan mengataiku lambat.

Begitulah, sepajang 10 menit perjalanan pulang kami dari sekolah, dia akan menoleh tiga kali. Tiap enam hari dalam seminggu.

Dann tidak pernah benar-benar meninggalkanku.

***

Siang itu agak lengang. Aku berjalan bersama Dann seperti biasa. Deretan pohon yang lumayan tinggi di sepanjang kanan kiri jalan menuju rumah kami memberi sensasi teduh yang menyenangkan.

Aku mengamati Dann yang terlihat lebih diam dari biasanya.

Seragam putih merah Dann terlihat lusuh. Tadi siang, anak-anak kelas 4 memang ada jadwal pelajaran olahraga. Lalu, seperi biasa, anak laki-laki memanfaatkannya dengan bermain futsal di lapangan upacara depan kelas. Dan yah, permainan mereka bisa dibilang agak brutal. Tapi, justru hal semacam itu yang nantinya akan dikenang, bukan?

Sialnya, Dann tidak membawa baju olahraga. Jadilah seragam putih merahnya lusuh begitu. Bahkan, ada noda bekas sepatu menempel di pakaiannya, membuatku tanpa sadar  terkekeh geli. Dann menoleh kearahku dengan mata bertanya, sepasang alis tebalnya tertaut seakan menjadi satu. Lucu.

Aku tertawa semakin keras. Dann menatapku tidak habis pikir, sampai sesuatu terasa jatuh menimpa puncak kepalaku, membuatku terdiam, menatap Dann.

“Dann…?”

“Diem disitu. Jangan gerak!” Dann memperingatkanku.

Aku menghiraukan Dann, meraba puncak kepalaku, merasakan sesuatu yang lunak dan berbulu.

Dann menarik tanganku kasar. “Jangan pegang, bandel!” Tapi terlambat. Aku sudah memegangnya. Mataku melebar, menyadari apa itu. “Aku cari daun dulu bentaran. Diem disitu.” ucap Dann sebelum beranjak.

U-ulat!

“DAAAANNNNN!!!” teriakku. Aku refleks berjongkok, menangis sejadi-jadinya. Dann pergi. Aku benci ulat! Dann!!

Aku masih menangis sampai tangan seseorang mengambil benda yang kuasumsikan sebagai ulat itu dari kepalaku. Aku menengadah, mendapati Dann dihadapanku. Rasa lega mengalir di rongga dadaku.

Lega luar biasa hanya dengan keberadaan Dann saat itu.

“Udahan nangisnya cengeng. Ayo pulang.”

Pipiku masih basah oleh air mata saat Dann membatuku berdiri di sela isak, menyuruhku pulang.

“Jangan cengeng.” Katanya, lugas. Lalu, ia berjalan berdampingan denganku. Hari ini, membiarkanku pulang di sampingnya, bukan di belakangnya.

Dann aneh.

Belum lama setelahnya, aku melihat kakak perempuan Dann berjalan kearah kami.

“Dann, kamu dicariin Nenek.” Katanya. Dann memang tingal bersama neneknya, juga kakak perempuan dan sepupunya, sedang orang tuanya merantau di luar jawa.

“Bentaran deh Kak. Aku mau maen ke rumahnya.”

“Suruh buruan. Jangan pacaran mulu, ntar ketinggalan lho.” Ucap Kak Rina sambil terkekeh.

Eh?

Dann diam. Begitu juga aku. Dengan alasan yang berbeda. Aneh. Wajahku kok anget ya?

“Dann? Ayo. Ntar ditinggal beneran lho.”

Dann menoleh ke arahku yang juga menatapnya. Matanya seakan ingin mengatakan sesuatu, tapu bibirnya tak kunjung mengucap kata. Dann aneh.

“Selamat tinggal.” Ucapnya. Tidak biasanya. Tapi aku tidak menghiraukannya, justru balas melambaikan tangan sambil tersenyum.

***

Esoknya, aku menunggu Dann didepan rumah. Tapi dia tidak juga lewat. Ibu membenarkan ikatan rambutku yang dikuncir dua sambil bertanya kenapa aku belum berangkat.

“Nunggu Dann.” Jawabku seakan itu bukan hal yang masih harus ditanyakan.

“Udah hampir bel loh.” Ibu memperingatkan. Aku menghela nafas, enggan berangkat tanpa Dann. “Kamu berangkat aja ya? Perlu ibu antar? Mungkin Dann udah duluan, makanya daritadi nggak keliatan.”

Ya, mungkin. Atas bujukan Ibu, aku akhirnya berangkat, berencana mengomel pada Dann yang meninggalkanku. Namun yang kudapati hanya bangku Dann yang kosong.

Ah, mungkin Dann terlambat.

Tapi sampai akhir pelajaran Dann tetap tidak datang.

Mungkin Dann malas sekolah terus bolos. Nanti bakal ku omelin di rumahnya.

Tapi yang kudapati lagi lagi hanya kosong. Tidak ada seorangpun di rumahnya.

Mungkin Dann sedang liburan sama Nenek dan Kak Rina. Besok kalau nggak bawa oleh-oleh awas aja.

Tapi besoknya tetap sama. Tidak ada Dann, apalagi oleh-oleh. Dann tidak muncul di depan rumah meski aku bersiap terlalu pagi dan menunggunya sampai bel hampir dibunyikan.

Dann tidak pernah lagi datang mengisi bangku yang kosong itu, ataupun rumah kecil yang kini terlihat mati tanpa seorangpun tinggal di dalamnya.

Berpuluh kata ‘mungkin’ berkelebat di kepalaku, menolak kenyataan yang enggan kuakui.

Tapi, pada akhirnya, aku tahu, Dann meninggalkanku. Bukan hanya lima meter, tak cukup hanya tiga menit. Aku bahkan tak tahu angka pastinya. Aku menolak tahu.

Dann benar-benar meninggalkanku.

***

ida nur hajjah

 

Milikmu

Keluh kesahmu terdengar

Bising

 

Aku mulai bosan dengan semua celotehmu

Kadang menyalahkanku

Kadang kelabu

Penuh misteri

 

Yang tak akan bisa aku terka

Karna itu milikmu

Misteri itu

Milikmu

 

|11102016

Aku mulai bosan dengan semua celotehmu

Kadang menyalahkanku

Kadang kelabu

Penuh misteri

 

Yang tak akan bisa aku terka

Karna itu milikmu

Misteri itu

Milikmu

 

|11102016

Rintik

Beku

Tanganku ngilu

Untuk menulis saja

Tak mampu



Adalah angin malam yang membawa kabar

Adalah angin pagi yang membawa sinar

Adalah kamu yang membawaku

Adalah kita yang tiada



Mengapa sendu menggores

Dikala bahagia tergambar



Sore itu aku pergi

Menyelinap diantara hujan

Juga kenangan



Wonosobo, 01 Oktober 2016

Kelu

 

Aku tak tahu

Saat kau tanya

Aku hanya bisa diam

 

Tanpa bunyi,

Sunyi

 

Untaian kata membekas dalam pikiranku

Kata yang kau tuliskan untuk puisimu

Kata yang sederhana

Penuh makna

 

Ingin ku mengulang waktu

Untuk melepas senja

bersamamu

lagi

 

Sudikah kau?

Melihat jalan setapak gelap

Tanpa lampu jalan

menemani

 

Sudikah kau?

Menggambar cerita

tentang kita?

 

|30092016

Catatan Junior: Pengenalan Lingkungan Sekolah

Wuih, gak kerasa udah kelas 1 SMA. Tiga tahun di SMP berlalu terlalu cepat. Setelah menyelesaikan tugas akhir yakni UN dengan sukses, akhirnya diterima di SMA yang aku pingin. SMA 1 Wonosobo! Hore!

Sekolah baru juga berarti temen baru, guru baru, seragam baru, juga gebetan baru, hehe. Tapi yang lebih penting dari itu semua, masuk ke SMANSA (Singkatannya SMA 1 Wonosobo) berarti dapet tuntutan. Kita dituntut untuk bisa berkarya dan berprestasi di bidang akademik atau non-akademik, sesuai kemampuan. But, sebelum menempa kemampuan, tentu kita harus “berkenalan” dulu dengan sekolah plus warga-warganya.

Yap, kita harus ikut MOS (Masa Orientasi Siswa) yang sekarang berganti nama menjadi Pengenalan Lingkungan Sekolah atau PLS. Tujuan kegiatan ini tuh simple sebenernya. Kita, siswa baru diajak mengenal lingkungan sekolah yang pastinya asing bagi sebagian besar dari kami. Lingkungan yang dimaksud adalah lokasi sekolah, perangkat sekolah (Kepala Sekolah, Guru, dan Sivilitas Akademia), Siswa, dan lain-lain.

Jujur, image pertamaku terhadap kegiatan PLS/MOS adalah kegiatan yang gak mutu, cuma buang-buang waktu, dan ngebosenin. Pemikiranku agak picik juga ya :v hahaha. Tapi itu bukan tanpa alasan, soalnya waktu MOS di SMP suruh bawa itulah, bikin inilah, ditambah minta tanda tangan ke kakak kelas sama guru. Ya emang sih, semua itu ada manfaatnya. Tapi buatku jujur itu kegiatan yang wasting time, bikin capek juga. Maklumlah di SD gak ada kegiatan semacam itu jadi masih butuh adaptasi.

Ternyata eh ternyata, semua itu SALAH besar. Pengenalan Lingkungan Sekolah di SMA 1 Wonosobo terorganisir dengan sangat rapi. Materi yang disampaikan bapak dan ibu guru sangat menarik untuk disimak. Dengan pembawaan mereka yang ramah, suka guyon/bercanda, dan murah senyum, siapa sih yang gak mau ndengerin? Dan yang saya paling suka dari PLS di SMANSA adalah TIDAK ADA tugas untuk bikin alat-alat yang nyeleneh. Bahkan ID Card sudah disiapkan dari sekolah. What a life! :v

Oh ya, agar lebih mudah untuk diberi materi, seluruh siswa baru dibagi menjadi 6 gugus. Dan aku masuk ke gugus B. Ada sekitar 52 orang di gugus ini. Awalnya, anak yang aku kenal cuma yang bareng waktu SMP aja, tapi lambat laun jadi tau yang lain (walaupun belum semua, waktunya cuma 3 hari sob). Karena menurut peribahasa, tak kenal maka tak sayang, makanya kita harus kenal biar sayang. Iya gak? Iya ajalah. Hehe.

Hampir lupa, ada tugas bikin makalah tentang apa yang udah kita pelajari selama PLS. Its okay lah, nulis begituan di SMP udah kaya pekerjaan sampingan :v. Oleh karena itu, gugus B dipecah menjadi 5 kelompok. Dan aku dapet kelompok yang jumlah ceweknya lebih banyak dari jumlah cowoknya. Buat cowok cowok yang males ngerjain pasti taulah apa artinya, hehe. What a life! :v

Setelah pembukaan secara simbolis saat upacara bendera, para peserta didik baru diarahkan menuju kelas masing-masing menurut gugusnya. Pak Taufik Ramadan selaku wali kelas dari gugus B masuk dan memperkenalkan diri. Kemudian beliau memberikan dua buah kertas, satu berisi lirik lagu dan satunya form data diri. Pak Taufik (panggilan akrabnya) ini orangnya santai, suka nyanyi karena dia guru seni musik, dan bersahabat sama murid. Saking sukanya sama nyanyi, pada hari kedua PLS, kita satu gugus disuruh nyanyi mars sama hymne berulang-ulang. Kenapa diulang? Bukan karena suara kami mirip vocal grup terkenal, tapi karena kami gak hafal-hafal liriknya.

Guru-guru masuk dan memperkenalkan dirinya masing-masing. Beberapa adalah wajah yang familiar karena sempat bertemu waktu pendaftaran sama daftar ulang. First impression yang aku dapet adalah, mereka ini (bapak/ibu guru SMA 1 Wonosobo) merupakan tenaga pendidik yang ramah dan santai tapi seruis. Dan hal ini yang membuatku berfikir, aku bakal seneng sekolah disini. Amin!

Pengenalan Lingkungan Sekolah atau PLS adalah ajang untuk mengenal lingkungan sekolah, bukan ajang untuk perpeloncoan atau penggojlokan. Terlepas dari itu, PLS akan sukses apabila seluruh pihak yang terlibat di dalamnya tidak ada yang merasa ter-dzalimi atau tersakiti, hehe.

Memang sih, kegiatan PLS di tiap sekolah berbeda-beda. Tapi tujuannya selalu sama, yakni mengetahui lingkungan yang akan digunakan selama kurang lebih 3 tahun kedepan. Karena kegiatan yang baik kadang tidak diimbangi dengan pelaksanaan yang baik pula. Tapi nggak di SMA N 1 Wonosobo.

Aku, Satria SMANSA
| 20072016

Catatan Januari: Karyawisata yang Asyik

Hai kawan! Udah lama nggak update nih. Dengan berbagai kesibukan yang ada, akhirnya baru bisa nge post lagi sekarang. Hari hari ini, adik kelas saya lagi “ribut” masalah karya wisata. Mulai dari tujuannya, apa aja yang harus dibawa, semua jadi fokus utama kayaknya, hehehe.

Saya cuma mau ngeshare pengalaman waktu menghadapi situasi-mau-piknik kaya sekarang ini. Emm, mulai dari mana ya? Kita mulai dari menetukan tujuan aja deh.

Kalo di SMP saya, biasanya ada 3 alternatif destinasi yang bisa dipilih. (saya dengar tahun ini juga begitu.) Tahun lalu pilihannya adalah Jakarta-Bandung, Jawa Timur, dan Bali. Sepertinya hal sama juga akan terulang tahun ini. FYI, saya dan teman seangkatan akhirnya pergi ke Jawa Timur.

Untuk memilih destinasi karyawisata yang asik, kita harus memperhatikan beberapa hal berikut.

Pertama, pastikan tempat yang akan kita kunjungi memiliki banyak objek menarik dan bermanfaat. Objek menarik disini berarti ditempat lain gak ada, alias limited edition. Contohnya, Museum Angkut di Batu, Monas di Jakarta, atau Taman Pintar di Jogjakarta. Kenapa gak ada nama Pantai Sanur dan Kuta? Soalnya di tempat lain ada juga ada pantai yang lebih bagus. Sebut saja Pantai Glagah dan Indrayanti. Terlebih dari itu, di kuta juga gak terlalu “bersahabat” dengan anak muda.

Seperti yang kita tahu, di Bali, khususnya di Pantai Kuta banyak pemandangan yang kurang pantas dilihat. Kata guru saya, dari pada nambah dosa, mending gak usah sekalian. Jadi pertimbangkan objek yang akan kita datangi, sehingga kita bisa mendapat manfaat dari tempat tersebut.

Kedua, perhatikan makanan yang ada di daerah tersebut. Bagi yang beragama Islam, perhatikan apakah makanan yang dijual halal atau tidak. Karena, menurut pengalaman saya, kalau kita sudah susah memilih makanan, otomatis kita jadi males makan. Ingatya, karyawisata juga perlu jaga kesehatan dan stamina. (ciee perhatian :v)

Ketiga, ini yang paling penting dan peling sering dilupakan oleh kita semua. Di destinasi wisata yang kita pilih. Harus ada tempat ibadah yang mencukupi. Mencukupi, berarti dalam kualitas juga dalam kuantitas. Koneksi sama Sang Pencipta harus tetep ada ya. Sekali lagi, harus ada tempat ibadah yang mencukupi, pokoknya harus. Jangan lupa ibadah teman teman. Yang agamanya Islam jangan gara gara karyawisata jadi lupa shalat. Yang agamanya Kristen, Katolik, Hindu, Buddha, dan lainnya juga jangan lupa ibadah menurut kepercayaannya ya. (ciee perhatian lagi :v)

Kayaknya, tiga hal tadi harus selalu menjadi pertimbangkan sebelum karyawisata. Iya gak sih? Iya aja ya :p hehe

Terus pertanyaan selanjutnya adalah ‘apa aja sih yang perlu dibawa?’ Nah buat yang satu ini tergantung masing masing orang. Tapi yang harus dibawa adalah perlengkapan ibadah, perlengkapan mandi, baju ganti, pokoknya barang pribadi kita. Tapi barang kaya HP, Tablet, Kamera juga bisa dibawa (kalau punya) supaya bisa update status mendokumentasi dan memberi kabar ke orang tua, terus ke pacar kalo punya 😀 hehehe

Tapi, kalo disuruh milih antara Bali atau Jawa Timur sih, jujur mending ke Jawa Timur. Pertimbangan pertama, nanti kalo SMA juga akhirnya ke Bali. Jadi buat apa berkunjung ke tempat yang sama dua kali tapi gak bisa lihat tempat wisata yang lain. Kedua, Jawa Timur memiliki objek-objek wisata yang menurut saya lebih menarik dari pada di Bali. Contohnya, Wisata Bahari Lamongan. Isinya kombinasi antara laut dan wahana mirip dufan.

Objek lain yang menarik adalah Museum Angkut. Museum ini dijamin gak akan membosankan dan pastinya teman teman bakal puas. Hal ini disebabkan oleh ruangan museum yang luas dan seru untuk dijelajahi. Kita bisa menemukan berbagai ‘scene’ berbeda dari seluruh dunia. Contohnya ada bagian tentang Buckingham Pallace, ada tentang Las Vegas, Broadway, dan lain lain. Sesuai namanya, disini juga terdapat ratusan kendaraan dari zaman dahulu tertata rapi di beberapa ruangan yang disediakan.

Ada juga Batu Night Spectacular (BNS). Sesuai dengan namanya, tempat ini baru buka pada malam hari. Tapi keseruan yang ditawarkan gak kalah menarik dengan tempat lain. Mau uji keberanian? Di sini ada rumah hantu yang siap bikin hati dag-dig-dug. Mau main tabrak tabrakan mobil tanpa di marahin pak polisi? Di BNS juga ada Bom Bom Car. Mau nyantai sambil nikmati pemandangan? Di sini ada sepeda layang, jadi kita bisa keliling nak sepeda tapi ngambang alias gak nempel lantai. Tiap sepeda berkapasitas 2 orang. Jadi kalo belum punya pasangan, cari mulai dari sekarang! 😀

Itulah tadi sekelumit pengalaman saya waktu ikut karyawisata. Namun, yang penting itu bukan tentang destinasinya, tapi kebersamaan dngan teman teman kita. Selamat ber-piknik ria dan semoga bermanfaat! 😀